Sejak 2008 devilpenakut

Ayo bermain dan nongkrong di masjid

Karena ini saya anggap terlalu pribadi untuk masuk ke blog devilpenakut.com maka akan saya tulis disini.

DI AREA MASJID INI

DILARANG:

  • MEROKOK
  • SEPAKBOLA DAN JENIS PERMAINAN LAIN
  • TONGKRONGAN DAN KONGKO-KONGKO

Saya sebagai muslim, sedih melihat spanduk itu di salah satu masjid di Semarang. Masjid itu mempunyai area lingkungan yang cukup luas.

Kok sedih, bukannya memang seharusnya seperti itu? Masjid itu tempat ibadah, tidak boleh buat main-main.

Mungkin sebagian orang akan beranggapan seperti itu. Tapi saya tidak. Itu menunjukkan betapa sekarang masjid menjadi tempat yang terlalu eksklusif.

Oke, untuk poin pertama saya setuju, karena merokok di tempat umum juga dilarang oleh beberapa perda. Semarang punya perda itu. Masjid merupakan tempat umum.

Namun untuk poin kedua dan ketiga, saya tidak setuju.

Kita lihat beberapa pandangan:

KH Masdar Farid Mas’udi menjelaskan secara gamblang terkait fungsi masjid dan filosofinya. Ia mengatakan bahwa kegiatan memakmurkan masjid merupakan usaha untuk “mengembalikan kekayaan yang hilang”.

Menurutnya, masjid berbeda dengan tempat-tempat ibadah lain. Masjid mempunyai satu tempat yang disebut serambi.

“Ini adalah bentuk filosofi hablumminannas. Sedangkan dengan tempat ibadah yang lainya tidak ada serambinya, itu menandakan bahwa tempat ibadah tersebut hanya berfungsi hablumminallah atau hanya hubungan dengan tuhannya,” tambahnya.

http://www.nu.or.id/post/read/44756/fungsi-serambi-masjid-menurut-kh-masdar-farid

Sebagian besar masjid di Indonesia selama ini hanya menjadi tempat beribadah sholat berjamaah, padahal pada jaman Nabi, Masjid juga menjadi pusat aktivitas umat muslim dalam menjalankan roda ekonomi dan lainnya.

http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-2876-detail-kembalikan-fungsi-masjid-lazismu-luncurkan-program-back-to-masjid.html

Sebagaimana yang juga telah dilakukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika menata kehidupan masyarakat Madinah untuk kali pertama yang dibangun bukan perkantoran, istana atau rumah pribadi, namun beliau memilih untuk mendirikan masjid.Beliau menjadikan masjid sebagai markas besar, kantor pemerintahan, balai pertemuan, màjelis taklim, dll. Bahkan rumah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pun berada disamping masjid. Masjid disamping sebagai tempat shalat juga sebagai tempat berkumpul untuk mendapatkan pelajaran dan pesan-pesan Islam juga sebagai tempat pertemuan antarberbagai kabilah yang saling bertikai karena ambisi jahiliyah dan perang-perangnya.

http://www.fastabiqu.com/2015/05/memvitalkan-kembali-fungsi-masjid.html

Optimalisasi fungsi dan peran masjid sebagai pusat pembinaan ummat, tidak mungkin dapat dikelola oleh satu atau sekelompok kecil orang, tetapi harus melibatkan semua komponen masyarakat yang berada disekitarnya. Cara ini dapat menyentuh hati masyarakat sehingga mereka merasa memilikinya. Keterlibatan mereka dalam melaksanakan fungsi masjid memerlukan manajemen pengelolaan yang baik sehingga semua komponen masyarakat merasa terlibat dan ada rasa memiliki terhadap masjid tersebut. Dari situlah akan timbul tanggung jawab untuk sama-sama meramaikan dan merawatnya dengan baik.

http://fiqihdasar.blogspot.co.id/2010/08/optimalisasi-fungsi-masjid.html

Fungsi utama masjid jelas untuk beribadah. Namun fungsi lainnya lebih banyak dari itu.

Poin ke 2, Dilarang Sepakbola dan Permainan Lain

Kenapa ada peraturan ini, awalnya pasti karena membuat ramai masjid dan mengganggu ibadah.

Bagaimana bila masjid menyediakan lapangan futsal/basket sederhana di area yang masih tersedia. Memperbolehkan anak-anak/pemuda/orang untuk bermain disitu dengan peraturan jika sedang ada sholat berjamaah/pengajian maka wajib berhenti dan ikut dalam sholat dan pengajian itu.

Enak mana dibanding melarang?

Bukannya masjid menjadi lebih ramai, lebih dikenal terutama oleh anak-anak muda, sholat jamaah bisa lebih banyak yang ikut. Anak muda dan masyarakat sekitar lebih merasa memiliki.

Poin ke 3, Dilarang Menjadi Tempat Tongkrongan dan Kongko-kongko.

Tidak semua nongkrong dan kongko-kongko itu negatif.

Bagaimana masjid menjadi tempat untuk berdiskusi bila nongkrong saja sudah tidak boleh.

Bagaimana masjid menjadi pusat pemecahan masalah bila kongko-kongko saja sudah tidak boleh.

Lebih baik mana bila anak muda bertemu di masjid dibanding tempat-tempat yang lebih tidak jelas. Di tempat yang tidak ada kontrol nya sama sekali.

Nongkrong? Ketimbang anak muda nongkrong di warung miras, ngerokok, mabuk judi? Mending nongkrong di masjid kan, sambil misal belajar, baca2 dll

— fajar ikhwanul hakim

Masjid, jelas terkontrol. Ada Takmir Masjid, ada jamaah masjid yang bisa mengingatkan apabila tongkrongan itu melenceng.

Lebih bagus bila masjid mempunyai perpustakaan, nongkrong sambil bedah buku. Keliatan cliche? kenapa tidak? bukankah itu hal bagus?

Kembali lagi, itu menyebabkan masjid ramai. Apa iya kalau pas nongkrong lalu masuk waktu sholat terus mereka yang nongkrong itu tidak ingin ikut?

Jangan usir orang/anak muda/anak kecil yang ingin meramaikan masjid untuk tujuan baik. Jika ada yang salah luruskan, bukan dilarang untuk bisa dekat dengan masjid, mengenal Islam, dan memajukan Islam.

Pengetahuan Islam saya sebagai seorang muslim belum luas. Tapi saya hanya melihat secara logika saja. Masjid, tempat ibadah, tempat penyebaran agama, bila sudah menjadi tempat ekslusif maka fungsinya menjadi timpang. Hanya untuk hablumminallah meninggalkan hablumminannas.

Ada pertanyaan atau masukan? Ngobrol di X atau Threads.

Kembali ke atas