Sejak 2008 devilpenakut

Oh Taksi Konvensional

“Taxis at night in Budapest with the city in the background” by Lexi Ruskell on Unsplash

“Taxis at night in Budapest with the city in the background” by Lexi Ruskell on Unsplash

Suatu malam saya bertemu wisatawan asing di bandara yang bingung transportasi menuju Hotel Pules Jl Mataram Yogyakarta. Karena sudah malam, untuk transportasi dari bandara menggunakan Trans Jogja cuma bisa mengantarkan sampai halte Bethesda. Begitu pula dengan saya yang juga harus turun di halte terakhir itu.

Pilihan perjalanan lanjutan adalah menggunakan taksi. Karena rombongan wisatawan (ber-empat) tersebut tidak mempunyai akun transportasi online maka saya bantu untuk menggunakan taksi konvensional. Nah saya ceritakan kenapa orang malas menggunakan taksi konvensional.

sopir tadi langsung meninggalkan kita sambil berkata ‘tidak mau ya sudah’

Saya membantu memanggil taksi berwarna maroon yang sedang mangkal tepat di seberang halte. Bukan mobil nya yang langsung menjemput tapi supirnya yang menghampiri. Menanyakan mau kemana. Saya sampaikan bahwa rombongan akan ke Hotel Pules, sopir tadi langsung meminta tarif 50 ribu. Saya bilang kenapa tidak pakai argo?, sopir tadi langsung meninggalkan kita sambil berkata ‘tidak mau ya sudah’.

Sebelum lanjut, sebagai informasi tarif taksi online dari tempat tersebut ke tujuan adalah 10 ribu tanpa promosi.

Terpaksa kami menunggu taksi lain yang lewat jalan tersebut. Setelah beberapa saat menunggu ada taksi berwarna putih yang menepi. Sopir taksi tersebut langsung sigap turun dan membantu mengangkat koper rombongan wisatawan tadi. Tanpa ada tawar menawar taksi tersebut sudah siap berangkat. Setelah diberitahukan bahwa tujuan cukup dekat (2 km), maka terkena tarif minimal 25 rb. Saya tanya kenapa tidak sesuai argo saja. Sopir bilang memang kesepakatannya di Jogja seperti itu.

Tarif ini memang sepertinya kesepakatan Organda Jogja. Solo sepertinya juga punya kebijakan itu. Beda dengan seperti di Jakarta yang tarif minimal 25 ribu itu hanya untuk bila taksi dipanggil melalui telepon. Kalau mencegat di jalan maka tarif sesuai argo.

Saya sampaikan ke wisatawan apakah setuju dengan tarif tersebut, memang sudah lebih murah dari taksi yang awal. Karena wisatawan katakan tidak apa-apa. Mereka langsung jalan.

Terlihat bagaimana ribet dan tidak ada kepastiannya taksi konvensional. Ditambah dengan oknum-oknum sopir yang membuat pandangan itu semakin buruk. Lalu mereka memaksa orang untuk menggunakannya? Saya rasa cuma akan dianggap angin lalu.

Bluebird belum boleh masuk Jogja, pilihan logis adalah Trans Jogja atau taksi online.

Oh iya, malam itu saya jelas mantab menggunakan taksi online. Dengan jarak dua kali lipat dari rombongan tadi, saya cuma bayar 13.500, dengan promosi dari harga normal 20 ribu.

Ada pertanyaan atau masukan? Ngobrol di X atau Threads.

Kembali ke atas