Pengguna Blokir Iklan Masa Kamu Marah?
Daftar isi
Lagi ramai tentang ad blocking. Terutama setelah Apple, yang membuat apapun menjadi pertama kali, menjadikan ad blocking populer kembali dengan membawa itu ke iOS. (content blocking kalau Apple bilang)
Saya bukan orang yang bergerak di bisnis iklan. Saya pengguna biasa yang menjadi target pengiklan. Di web, khususnya di browser saya, saya selalu memasang ad blocker. Sehingga sangat jarang melihat iklan di web ketika saya browsing. Kecuali jika yang sangat jarang membutuhkan IE.
Tapi iklan-iklan itu sebenarnya tetap ada. Bukan sekedar banner, pop up, flash ad. Namun ketika masuk ke artikel, sebelum video yang akan di tonton, dari twit berbayar, aplikasi dan sebagainya. Namun saya menganggap itu bukan merupakan hal yang mengganggu.
Bagaimanapun industri berubah, seperti contoh di atas belanja iklan akan tetap sama. Karena juga akan menyesuaikan. Menyesuaikan cara penyampaian nya.
Jadi kalau ada yang merasa terganggu dengan ad blocker maka sepertinya berarti belum kreatif.
I run a business almost entirely based on advertising. I am, thus, naturally disinclined to support ad-blocking. But from the outset, I’ve followed the advertising version of the golden rule: Present ads to readers (and podcast listeners) that you yourself would not be annoyed by. Advertisers and publishers who present user-hostile ads should not be surprised when the users fight back
http://daringfireball.net/linked/2015/06/19/ad-blocking-irony
Sumber:
http://www.vox.com/2015/9/18/9351759/ad-blocking-controversy