Sebuah Kebiasaan Investasi
Daftar isi

Kadang inspirasi itu bisa datang dari mana saja. Suatu siang saya bertemu dengan salah satu nasabah yang sebetulnya tidak ada dalam rencana kunjungan. Namun yang namanya kebetulan, ketika akan menuju nasabah yang termasuk dalam rencana kunjungan bertemulah saya dengan salah satu kepala cabang. Kepala cabang ini lalu mengajak saya untuk sekalian pergi ke beberapa nasabah yang akan di berikan kalender. Pembagian kalender merupakan salah satu agenda tahunan bagi kami yang kerja di bank.
Nasabah utama yang menjadi tujuan awal sudah didatangi, dan juga nasabah kedua. Akhirnya sampai ditempat usaha salah satu nasabah yang memiliki bisnis kerajinan dan hotel. Nasabah satu ini terakhir ditemui sekitar satu tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah dengan nasabah tersebut. Seorang yang masih dibilang muda untuk bisa mengurus bisnis peninggalan orang tua. Namun seperti pertemuan satu tahun yang lalu, lagi-lagi saya mendapatkan sesuatu yang bisa saya ambil pulang ilmunya.

Setiap tahun nasabah tersebut ‘memaksakan’ untuk menambah investasi baru berupa tanah. Harus ada pembelian tanah, baik itu sangat potensial ataupun kadang tanah tidak potensial pada saat ini.
Sebelumnya nasabah tersebut telah mengajarkan pentingnya sebuah habit atau kebiasaan baik yang dilatih menjadi sebuah karakter baik. Siang tadi nasabah tersebut mengajarkan pentingnya sebuah investasi bagi siapa-pun, bukan hanya seorang pengusaha namun juga bagi pegawai kantoran. Investasi yang dihasilkan dari kebiasaan juga. Setiap tahun nasabah tersebut ‘memaksakan’ untuk menambah investasi baru berupa tanah. Harus ada pembelian tanah, baik itu sangat potensial ataupun kadang tanah tidak potensial pada saat ini. Nasabah tersebut menceritakan bagaimana kenaikan harga tanah tidak bisa mengalahkan investasi lain atau bahkan gaji karyawan. Dan ‘profit’ itu didapat hanya dengan kerja 1 jam, dibandingkan dengan kerja pegawai yang 7–8 jam satu hari.
Kadang kita memikirkan pembelian tanah itu mahal, namun beliau menambahkan, tanah ini hanya sebagai contoh saja. Orang lain bisa meniru kebiasaan dia dengan aset lain yang mungkin lebih murah, misal satu tahun sekali ada deposito 20 juta yang tidak boleh di ambil-ambil. Walau peningkatan investasi tanah tentu mempunyai tingkat pengembalian yang lebih banyak. Intinya harus berupa aset. Bukan tiap tahun ganti mobil baru, atau ganti ponsel baru.
Dengan kesederhanaan beliau, walau dia mempunyai aset yang banyak, cukup untuk menjadi inspirasi di hari ini. Itulah enaknya bekerja di bagian marketing, bisa bertemu dengan orang sehingga bisa mendapatkan pelajaran hidup yang lebih bervariasi.